KOTA-KU

KOTA-KU
Kota-ku terus bergeliat membangun, semakin ramai dan padat penduduk. u

Kamis, 15 November 2012

Tetap Konsisten di Tengah Badai



--Salam untuk Bang Harun, semoga selalu sehat dan berbahagia--
Mempertahankan komitmen dan sikap konsisten bukan pekerjaan mudah. Kita lebih sering mengalah terhadap situasi sulit. Jiwa pantang menyerah hanya bersemayam pada diri orang-orang yang dibentuk dan ditempa oleh alam. Konsisten dan komitmen terhadap suatu tujuan pada akhirnya melahirkan keberhasilan. “Indah pada waktunya”, kata orang. Suatu pencapaian harus diukur atau dibandingkan dengan apa yang sudah “direncanakan” dan proses mencapainya.
Demikian saya menggambarkan sosok Harun Muda Indrajaya alias HMI. Saya dan semua orang yang pernah mengenalnya memanggilnya dengan sebutan akrab Bang Harun. Dari cara panggilan ini mencerminkan beliau sosok yang egaliter, respek, asuh, dan dapat bersahabat dengan siapa saja. Yang saya ketahui, Bang Harun enjoy dengan sebutan itu. Bahkan yang lebih tua pun memanggilnya dengan sebutan “Bang”.
Saya mengenal Bang Harun sekitar awal tahun 1996. Atas inisiatif sendiri, saya melamar menjadi wartawan di Mingguan Tamtama, di Jl. Patimura, Telukbetung. Padahal saya masih berstatus mahasiswa. Tapi Bang Harun, mungkin melihat diri saya sebagai pribadi yang mau bekerja dan belajar, sehingga diperkenankan bergabung di Tamtama.
Waktu itu rencana koran terbit harian sudah semakin mantap. Tahun 1997 terealisasi sebagai koran harian berkantor di Jl. Sultan Agung. Koran ini kemudian berganti nama menjadi Harian Lampung Ekspres (LE). Sejak awal saya diposisikan sebagai redaktur kota. Dalam praktiknya, sebagai awak redaksi tidak ada yang sektoral secara kaku. Justru inilah peluang menempa diri bagi para wartawan muda, seperti saya. Akhirnya, proses dari hulu hingga hilir harus digeluti setiap hari. Rutinitas yang menyenangkan, tidur setelah koran selesai dicetak. Itu pun tidak lama, paling tiga empat jam saja. Pagi sekitar jam 8 harus sudah memikirkan sajian berita edisi besok.
Sebagai “darah muda” saya sangat menikmati pekerjaan sebagai wartawan. Di LE-lah saya banyak menimba pengalaman, baik dari para senior maupun dari gemblengan situasi saat itu. Bagi saya, kesempatan bekerja di dapur LE adalah kesempatan langka. Saya jadi mengetahui proses membuat koran sejak dari “bahan mentah” hingga siap saji.
Harap maklum, pembaca koran tentu tidak mau tahu, besok ada berita apa, yang ada bagi mereka adalah besok pagi ada koran dan berita baru. Mereka jelas tidak mau diberi koran kosong tanpa tulisan, atau diberi koran diblok tinta warna hitam. Sebab, bagi pembaca koran harian, koran adalah sajian informasi baru yang menarik dan mereka butuhkan setiap hari.
Perspektif pembaca kini kian beragam. Masyarakat bergerak dinamis. Tuntutan kian beragam. Persaingan media semakin ketat. LE harus terus menggali nilai-nilai dan semangat dari Bang Harun, untuk diaktualisasikan dan diharmoniskan dengan situasi sekarang. Saya yakin, berbekal ruh perjuangan dan darah wartawan yang mengalir dalam diri Bang Harun, LE akan terus menapak langkah pasti meraih keberhasilan.
Menggambarkan kondisi dan iklim media sebelum era reformasi sungguh berbeda dengan saat ini. Membuat artikel atau berita “keras”, ketika itu jelas berisiko. Tapi Bang Harun piawai dalam kebijakan redaksi. Saya dulu pernah memuat berita yang kemudian dipermasalahkan oleh pembaca. Dilaporkan ke polisi, dan saya pun diperiksa. Atas klarifikasi Bang Harun, akhirnya semua pihak menyadari posisi masing-masing. Sebab memang dari sisi prosedur sudah benar. Pihak yang mempermasalahkan itu lebih didasarkan pada emosi sesaat dan kekurangpahaman atas profesi wartawan.
Saya tidak tahu persis mengapa kemudian harian LE harus pindah pada tahun 1999. Gejolak bathin yang saya rasakan ini ibarat badai prahara. Saya memahami sikap tegas Bang Harun. Yang jelas, LE tetap eksis hingga sekarang.
Menilai suatu penerbitan media itu tidak bisa instant. Ada penerbitan yang edisi pertama sekaligus edisi terakhir. Ada yang bertahan hanya dua atau tiga edisi saja. Nah, dari sisi daya tahan, LE telah membuktikan sebagai media yang tidak lekang oleh waktu, tidak luntur oleh perubahan cuaca, dan tidak surut menghadapi setiap tantangan dan hambatan. Dari ukuran umur, LE adalah media harian di Lampung yang paling kuat.
Hidup ini bergerak terus. Waktu senantiasa mengalir. Dunia tetap berputar. Dan jarum jam tidak akan pernah berputar ke arah kiri.  Matahari tetap terbit di ufuk timur. Dan pagi berganti siang, siang bertukar sore, dan sore pun berganti malam. Malam yang mengalir akan segera berganti pagi. Demikianlah hukum alam. Pesan kontekstualnya adalah bahwa kita harus selalu memperbaiki diri, berbekal pengalaman dan pembelajaran dari para senior, sesepuh, orang tua dan siapa pun yang layak diteladani dan diambil hikmahnya.
LE bagi saya adalah suatu bentangan alam yang telah melahirkan sosok-sosok tangguh, konsisten, menghargai keragaman, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.
Saya punya harapan besar dan keyakinan LE semakin besar. LE akan mewarnai dinamika informasi bagi masyarakat Lampung. Saya bangga menjadi keluarga LE.  
Saya menuliskan testimoni atas interaksi saya dengan Bang Harun, rekan-rekan wartawan, dan awak LE dengan harapan menjadi referensi bagi generasi penerus LE, para wartawan yang menghargai nilai-nilai sikap dan daya juang sosok Bang Harun.