--Salam untuk Bang Harun, semoga selalu sehat dan berbahagia--
Mempertahankan
komitmen dan sikap konsisten bukan pekerjaan mudah. Kita lebih sering mengalah
terhadap situasi sulit. Jiwa pantang menyerah hanya bersemayam pada diri
orang-orang yang dibentuk dan ditempa oleh alam. Konsisten dan komitmen
terhadap suatu tujuan pada akhirnya melahirkan keberhasilan. “Indah pada
waktunya”, kata orang. Suatu pencapaian harus diukur atau dibandingkan dengan
apa yang sudah “direncanakan” dan proses mencapainya.
Demikian
saya menggambarkan sosok Harun Muda Indrajaya alias HMI. Saya dan semua orang
yang pernah mengenalnya memanggilnya dengan sebutan akrab Bang Harun. Dari cara
panggilan ini mencerminkan beliau sosok yang egaliter, respek, asuh, dan dapat
bersahabat dengan siapa saja. Yang saya ketahui, Bang Harun enjoy dengan
sebutan itu. Bahkan yang lebih tua pun memanggilnya dengan sebutan “Bang”.
Saya
mengenal Bang Harun sekitar awal tahun 1996. Atas inisiatif sendiri, saya
melamar menjadi wartawan di Mingguan Tamtama, di Jl. Patimura, Telukbetung. Padahal
saya masih berstatus mahasiswa. Tapi Bang Harun, mungkin melihat diri saya
sebagai pribadi yang mau bekerja dan belajar, sehingga diperkenankan bergabung
di Tamtama.
Waktu itu
rencana koran terbit harian sudah semakin mantap. Tahun 1997 terealisasi
sebagai koran harian berkantor di Jl. Sultan Agung. Koran ini kemudian berganti
nama menjadi Harian Lampung Ekspres (LE). Sejak awal saya diposisikan sebagai
redaktur kota. Dalam praktiknya, sebagai awak redaksi tidak ada yang sektoral
secara kaku. Justru inilah peluang menempa diri bagi para wartawan muda,
seperti saya. Akhirnya, proses dari hulu hingga hilir harus digeluti setiap
hari. Rutinitas yang menyenangkan, tidur setelah koran selesai dicetak. Itu pun
tidak lama, paling tiga empat jam saja. Pagi sekitar jam 8 harus sudah
memikirkan sajian berita edisi besok.
Sebagai
“darah muda” saya sangat menikmati pekerjaan sebagai wartawan. Di LE-lah saya
banyak menimba pengalaman, baik dari para senior maupun dari gemblengan situasi
saat itu. Bagi saya, kesempatan bekerja di dapur LE adalah kesempatan langka. Saya
jadi mengetahui proses membuat koran sejak dari “bahan mentah” hingga siap
saji.
Harap
maklum, pembaca koran tentu tidak mau tahu, besok ada berita apa, yang ada bagi
mereka adalah besok pagi ada koran dan berita baru. Mereka jelas tidak mau
diberi koran kosong tanpa tulisan, atau diberi koran diblok tinta warna hitam.
Sebab, bagi pembaca koran harian, koran adalah sajian informasi baru yang
menarik dan mereka butuhkan setiap hari.
Perspektif
pembaca kini kian beragam. Masyarakat bergerak dinamis. Tuntutan kian beragam.
Persaingan media semakin ketat. LE harus terus menggali nilai-nilai dan
semangat dari Bang Harun, untuk diaktualisasikan dan diharmoniskan dengan
situasi sekarang. Saya yakin, berbekal ruh perjuangan dan darah wartawan yang
mengalir dalam diri Bang Harun, LE akan terus menapak langkah pasti meraih
keberhasilan.
Menggambarkan
kondisi dan iklim media sebelum era reformasi sungguh berbeda dengan saat ini. Membuat
artikel atau berita “keras”, ketika itu jelas berisiko. Tapi Bang Harun piawai
dalam kebijakan redaksi. Saya dulu pernah memuat berita yang kemudian
dipermasalahkan oleh pembaca. Dilaporkan ke polisi, dan saya pun diperiksa.
Atas klarifikasi Bang Harun, akhirnya semua pihak menyadari posisi
masing-masing. Sebab memang dari sisi prosedur sudah benar. Pihak yang
mempermasalahkan itu lebih didasarkan pada emosi sesaat dan kekurangpahaman
atas profesi wartawan.
Saya tidak
tahu persis mengapa kemudian harian LE harus pindah pada tahun 1999. Gejolak
bathin yang saya rasakan ini ibarat badai prahara. Saya memahami sikap tegas
Bang Harun. Yang jelas, LE tetap eksis hingga sekarang.
Menilai
suatu penerbitan media itu tidak bisa instant. Ada penerbitan yang edisi
pertama sekaligus edisi terakhir. Ada yang bertahan hanya dua atau tiga edisi
saja. Nah, dari sisi daya tahan, LE telah membuktikan sebagai media yang tidak
lekang oleh waktu, tidak luntur oleh perubahan cuaca, dan tidak surut
menghadapi setiap tantangan dan hambatan. Dari ukuran umur, LE adalah media
harian di Lampung yang paling kuat.
Hidup ini
bergerak terus. Waktu senantiasa mengalir. Dunia tetap berputar. Dan jarum jam
tidak akan pernah berputar ke arah kiri. Matahari tetap terbit di ufuk timur. Dan pagi
berganti siang, siang bertukar sore, dan sore pun berganti malam. Malam yang
mengalir akan segera berganti pagi. Demikianlah hukum alam. Pesan
kontekstualnya adalah bahwa kita harus selalu memperbaiki diri, berbekal
pengalaman dan pembelajaran dari para senior, sesepuh, orang tua dan siapa pun
yang layak diteladani dan diambil hikmahnya.
LE bagi
saya adalah suatu bentangan alam yang telah melahirkan sosok-sosok tangguh, konsisten,
menghargai keragaman, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.
Saya punya
harapan besar dan keyakinan LE semakin besar. LE akan mewarnai dinamika
informasi bagi masyarakat Lampung. Saya bangga menjadi keluarga LE.
Saya menuliskan testimoni atas interaksi saya
dengan Bang Harun, rekan-rekan wartawan, dan awak LE dengan harapan menjadi
referensi bagi generasi penerus LE, para wartawan yang menghargai nilai-nilai
sikap dan daya juang sosok Bang Harun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar